• bersihkan_harta.jpg
  • kuatkarenazakat.jpg
  • seribu_berkah.jpg
saham-dan-investasi

Hasil dari keuntungan investasi saham, wajib dikeluarkan zakatnya sesuai dengan kesepakatan para ulama pada Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404.) Namun para ulama berbeda tentang kewajiban pengeluaran zakatnya.

Pendapat pertama yang dikemukakan oleh Syeikh Abdurrahman Isa dalam kitabnya "al-Mu'amalah al-Haditsah wa Ahkmuha" mengatakan bahwa yang harus diperhatikan sebelum pengeluaran zakat adalah status perusahaannya, di mana:

* Jika perusahaan tersebut hanya bergerak di bidang layanan jasa, misalnya biro perjalanan, biro iklan, perusahaan jasa angkutan (darat, laut, udara), perusahaan hotel, maka sahamnya tidak wajib dizakati. Hal ini dikarenakan saham-saham itu terletak pada alat-alat, perlengkapan, gedung-gedung, sarana dan prasarana lainnya. Namun keuntungan yang diperoleh dimasukkan ke dalam harta para pemilik saham tersebut, lalu zakatnya dikeluarkan bersama harta lainnya jika telah mencapai haul dan nishab (jangka waktu dan jumlah tertentu).
* Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan dagang murni yang melakukan transaksi jual beli komoditi tanpa melakukan proses pengolahan, seperti perusahaan yang menjual hasil-hasil industri, perusahaan dagang dalam negeri, perusahaan ekspor-impor, dan lain lain, maka saham-saham perusahaan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya di samping zakat atas keuntungan yang diperoleh. Caranya adalah dengan menghitung kembali jumlah keseluruhan saham kemudian dikurangi harga alat-alat, barang-barang ataupun inventaris lainnya. Besarnya kadar zakat adalah 2,5 persen dan bisa dikeluarkan setiap akhir tahun.
* Jika perusahaan tersebut bergerak di bidang industri dan perdagangan sekaligus, artinya melakukan pengolahan suatu komoditi dan kemudian menjual kembali hasil produksinya, seperti perusahaan Minyak dan Gas (MIGAS), perusahaan pengolahan mebel, marmer dan sebagainya, maka sahamnya wajib dizakatkan dengan mekanisme yang sama dengan perusahaan kategori kedua

Pendapat kedua adalah pendapat Abu Zahrah. Menurutnya, saham wajib dizakatkan tanpa melihat status perusahaannya karena saham adalah harta yang beredar dan dapat diperjual-belikan, dan pemiliknya mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tersebut. Ini termasuk kategori komoditi perdagangan dengan besaran zakat 2,5 persen dari harga pasarnya. Caranya adalah setiap akhir tahun, yang bersangkutan melakukan penghitungan harga saham pada harga pasar, lalu menggabungkannya dengan dividen (keuntungan) yang diperoleh. Jika besarnya harga saham dan keuntungannya tersebut mencapai nishab maka saham tersebut wajib dizakatkan.

Yusuf Qaradawi sendiri mempunyai pendapat yang agak berbeda dengan kedua pendapat di atas. Beliau mengatakan jika saham perusahaan berupa barang atau alat seperti mesin produksi, gedung, alat transportasi dan lain-lain, maka saham perusahaan tersebut tidak dikenai zakat. Zakat hanya dikenakan pada hasil bersih atau keuntungan yang diperoleh perusahaan, dengan kadar zakat 10 persen. Hukum ini juga berlaku untuk aset perusahaan yang dimiliki oleh individu/perorangan. Lain halnya kalau saham perusahaan berupa komoditi yang diperdagangkan (tercatat di bursa saham), zakat dapat dikenakan pada saham dan keuntungannya sekaligus karena dianalogikan dengan urudh tijarah (komoditi perdagangan). Besarnya kadar zakat adalah 2,5 persen.

Hal ini juga berlaku untuk aset serupa (surat-surat berharga lainnya) yang dimiliki oleh perorangan. Pendapat yang terakhir ini, sebagaimana disampaikan Yusuf Qaradawi nampaknya lebih mudah dalam aplikasinya. Zakat saham hanya diwajibkan pada saham yang berupa komoditi perdagangan dengan kadar zakat 2,5 persen. Untuk saham yang berupa alat-alat atau barang, zakatnya adalah pada keuntungan yang diperoleh dan bukan pada nilai saham itu sendiri. Kadar zakatnya 10 persen, dianalogikan dengan zakat hasil pertanian dan perkebunan

Alhamdulilillah, BAZNAS Kota Padangsidimpuan Menyalurkan Bantuan Gelombang Pertama Tahun 2021
Padangsidimpuan, Baznas Kota Padangsidimpuan menyerahkan penyaluran bantuan Fakir Miskin, Kependidikan di Acara hari ulang tahun Pemko Padangsidimpuan serta hari santri nasional dan diserahkan oleh Walikota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution, S.H, Kapolres Kota Padangsidimpuan secara simbolis... Baca Selengkapnya
Alhamdulillah, Jumlah Zakat di Tapteng Meningkat, Dulu Rp170 Juta, Sekarang Rp2,4 Miliar
Jumlah uang zakat yang diterima Badan Zakat Nasional (Baznas) Tapanuli Tengah (Tapteng) terus meningkat setiap tahunnya. Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani menyebut dulu Baznas Tapteng menerima dana zakat sebesar Rp170 juta, sekarang Rp2,4 miliar. Hal itu disampaikan... Baca Selengkapnya
BAZNAS Salurkan Zakat di 18 Kecamatan, Bupati Tapteng Salurkan Zakat Harta di 2 Kecamatan
Pandan – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), telah menyalurkan zakat kepada 11.304 orang mustahak (Orang Yang Berhak Menerimanya) di 18 Kecamatan Se-Kabupaten Tapteng, di luar Kecamatan Barus dan Pasaribu Tobing Tahun 2020, dengan total  Zakat sebesar... Baca Selengkapnya
 BAZNAS Sumut dan Pemprovsu Salurkan Bantuan Korban di Palu, Sulteng
Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edy Rahmayadi menyebut seluruh masyarakat di Indonesia ikut merasakan duka yang mendalam akibat bencana alam yang menimpa Kota Palu, Donggala di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).Untuk meringankan beban korban bencana alam,  Pemprovsu menyalurkan bantuan... Baca Selengkapnya
 Pemprovsu Dukung Baznas Sejahterakan Umat
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mendukung Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sumatera Utara (Sumut) untuk mensejahterakan masyarakat daerah ini. Hal itu sesuai dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, aman dan... Baca Selengkapnya
prev
next

banner1

apakah_zakat  hukum_zakat  himbauan_bazda  quranzakat